Tampilkan postingan dengan label Did-U-Know. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Did-U-Know. Tampilkan semua postingan

Otak Tengah, Ada Apa Dengannya?

Otak Tengah

Otak Tengah, ada apa sih dengan organ yang katanya paling hebat dan benda paling misterius dan paling kompleks yang pernah ada. Ada juga yang mengatakan bisa membuat anak jenius dengan mengaktifkan otak tengah ini. Direktur Genius Mind Consultacy (GMC) Medan Barat Yusnelli Lona belum lama ini mengatakan, otak tengah adalah jembatan yang menghubungkan dan menyeimbangkan fungsi otak kiri dan otak kanan, dan untuk mengaktifkannya dapat dilakukan dengan metode "Blindfold Reading Method".

Ukurannya tak lebih dari 1,5 kg, letaknya di antara cairan licin, terbungkus jaringan tipis, bahkan dia sangat lunak. Meskipun seluruh aktivitas kehidupan tidak pernah lepas dari peran prosesor tubuh ini, kita tidak pernah tahu seperti apa sebenarnya otak itu. Otak bukanlah mesin yang bisa dilihat cara kerjanya. Semuanya serba kompleks dan penuh misteri. Saat sebuah fakta tentang otak muncul, akan disusul dengan temuan lain, begitu seterusnya dan tak pernah ada habisnya.

Metode aktivasi otak tengah adalah salah satu temuan yang membuat banyak orang tersihir dan terpana. Kita dibuat bertanya-tanya tentangnya. Apa itu otak tengah? Apakah berhubungan dengan hipnosis? Berjuta pertanyaan semakin memenuhi benak kita tatkala melihat seorang anak bermain sepeda dengan mata tertutup. Salah satu kemampuan yang disebut-sebut diperoleh melalui otak tengah setelah melalui aktivasi.

Blindfold Reading Method, Metode tersebut merupakan cara yang didesain untuk mengaktifkan kemampuan otak tengah supaya dapat menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan. Ia mengatakan, dewasa ini terdapat berbagai metode untuk mengaktifkan fungsi dan kemampuan otak, salah satunya melalui GMC. Karena itu di pendidikan, selalu menyeimbangkan antara kedua otak kanan dan kiri.

"Di GMC, mengaktifkan otak tengah tidak menggunakan kekuatan supranatural, meditasi atau hipnotis, tetapi murni melalui pendidikan secara alami dan hanya membutuhkan waktu satu setengah hari atau 14 jam," katanya. Menurut dia, otak tengah memungkinkan otak kiri maupun otak kanan berfungsi secara optimal. Pengaktifan otak tengah mengembalikan kekuatan otak pada keadaan semula yang dapat menjadikan anak genius.

Ketika otak tengah diaktifkan, anak akan memiliki akses yang mudah, baik ke otak kiri maupun kanan. Dengan akses yang mudah tersebut, anak akan belajar membaca dan menghafal benda-benda dalam kecepatan yang lebih tinggi. "Dengan demikian akan meningkatkan keyakinan, minat dan konsentrasi anak dalam belajar. Aktivasi otak tengah ini hanya dapat dilakukan terhadap anak di bawah usia 15 tahun," katanya.

Menurutmya, banyak manfaat yang diperoleh dengan mengaktifkan otak tengah, di antaranya dapat meningkatkan konsentrasi anak, meningkatkan daya ingat, meningkatkan kreativitas, membentuk karakter positif dan membuat emosi anak lebih stabil. "Otak tengah yang teraktivasi akan memancarkan gelombang otak yang mirip seperti radar yang memancar dari hidung dan telinga," katanya.

"Ada apa dengan otak tengah' inilah judul buku yang mencoba mengungkap apa dan bagaimana otak tengah serta aktivasi otak tengah secara jujur dan logis. Dan menawarkan cara mandiri untuk melakukan optimalisasi otak tengah, tanpa dibebani oleh biaya yang membelalakan mata.

Judul Buku: Ada Apa dengan Otak Tengah

Penulis: Nia Haryanto

Penerbit: Gradienmediatama

Terbit: Agustus 2010

Tebal: 136 halaman

Dan berikut ini ada video yang terkait dengan Otak Tengah:

Hujan Ikan-Hujan Katak di Jepang

Hujan Ikan-Hujan Kodok di Jepang

Hujan Ikan dan Hujan Kodok, terdengar aneh? Yah..memang, namun hal ini dikabarkan terjadi di Jepang tepatnya di kota Taiwa, Nakanoto, Asahi, dan Kuki. Fenomena Hujan Ikan di Jepang ini terjadi pada bulan juni 2009 tahun lalu. Tau-tau saja kembali heboh saat ini. Mungkin karena aneh atau masih menjadi misteri?.

Ikan ikan itu mempunyai panjang dengan diameter 5cm berbentuk seperti ikan dan kodok. Sejauh ini belum ada yang bisa menjelaskan kenapa hal ini bisa terjadi, beberapa orang mengatakan bahwa ini adalah fenomena langka yang pernah terjadi dijepang dan mereka menyebutnya "binatang hujan" yang diakibatkan perubahan cuaca yang tidak menentu dinegara sakura ini.

Kejadin aneh yang mirip dengan Hujan Ikan di Jepang ini juga pernah terjadi di Australia, yang anehnya terjadi di gurun, para penduduk suatu kota kecil di wilayah tandus Australia bagian utara mengalami berkah yang jarang terjadi. Kota mereka dilanda hujan ikan. The Telegraph mengungkapkan, dalam dua hari berturut-turut Kota Lajamanu di negara bagian Northern Territory kejatuhan banyak ekor ikan. Bersama dengan air hujan, ikan-ikan itu muncul begitu saja dari langit. Sebagian besar ikan masih dalam keadaan hidup. Hujan ikan itu baru berhenti Senin, 1 Maret 2010.

Para pakar cuaca di Australia yakin bahwa ikan spangled perch, salah satu jenis ikan air tawar di Australia, tampaknya terhisap ke dalam badai. Mereka lalu dibawa angin kencang sebelum akhirnya berguguran di Lajamanu, kota yang jumlah penduduknya hanya 669 orang. Apakah Hujan Ikan di Jepang dan Australia ini juga akan terjadi di Indonesia? Mau lihat foto dan video nya? Silakan klik link berikut ini--> Video dan Foto Hujan Ikan

Kutub Utara Mencair, Pulau Es Meleleh

Kutub Utara Mencair, Pulau Es Meleleh

Kutub Utara Mencair. Pemanasan global semakin hari semakin menakutkan, es-es di kutub-kutub Bumi ini mulai mencair. Hal ini menjadi sebuah Fenomena mencairnya pulau es di Kutub Utara. kabar ini membuat banyak pihak terkejut termasuk kalangan selebritis dan ulama. Ada kabar pulau es yang hanyut, meleleh seperti es krim. Kita pun bisa melihat sebuah pulau es di Greenland retak dan mencair ke laut lepas. Menurut kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara DR Edwin Aldrian, mencairnya pulau es di Kutub Utara diakibatkan sirkulasi panas bumi.

Ilmuan dari universitas Bremen Jerman mempublikasikan sejumlah foto yang diambil dari satelit milik NASA yang menunjukkan jalur barat laut telah terbuka, sementara bongkahan es terakhir yang selama ini menutupi jalur yang menembus laut Laptev-Siberia mengarah ke Rusia juga telah mencair. Berita tentang hal ini juga dimuat di harian Independent Inggris 31 Agustus yang lalu.

Para ilmuan asal Amerika memperkirakan jika pemanasan global tetap terjadi maka dalam tempo 5 tahun musim panas di Kutub utara bakal tidak ada es sama sekali!, perkiraan seperti ini bisa muncul karena jumlah lapisan es yang telah mencari hingga saat ini seharusnya baru akan terjadi pada tahun 2050 mendatang.

"Di bumi ini ada arus lintas dunia yang menyalurkan atau melakukan sirkulasi panas ke seluruh permukaan bumi. Nah..di Samudera Atlantik, arus lintas dunia tersebut mengarah ke Greenland sehingga menyebabkan bongkahan es yang lepas dan mencair," kata Edwin seperti ditayangkan Hot Shot, Jumat (20/8).

Ulama seperti Habib Abdurahman Assegaf menyatakan, fenomena alam tersebut diakibatkan pemanasan global. "Fenomena itu karena ozon semakin menipis, sehingga atmosfer tidak bisa menyaring panas matahari dan mengakibatkan es mencair," katanya. Menurut para pakar, pencairan es di Kutub Utara merupakan fenomena alam yang sangat menakutkan. Pasalnya, pencairan es di wilayah bersuhu di bawah 0 derajat Celcius itu bisa menenggelamkan sejumlah daratan di dunia. Hal tersebut juga dikhawatirkan sejumlah artis.

"Kalau es di Kutub Utara mencair, kayaknya Indonesia bakal tenggelam. Soalnya Indonesia kan negara kepulauan. Kalau air lautnya naik, pasti akan sampai ke daratan," kata penyanyi Fitri Carlina. Sementara itu, menurut Dinda Kanyadewi, sebaiknya masyarakat lebih peduli lagi dengan dampak pemanasan global agar bisa meminimalkan kemungkinan bencana yang akan datang.

Pada tahun 2005 jalur Timur Laut pernah sekali terbuka, tetapi jalur Barat Laut waktu itu tetap tertutup, dan tahun 2006 keadaannya berbalik, tetapi pada tahun ini kedua jalur tersebut terbuka secara bersamaan. Pihak yang paling mendambakan terjadinya hal ini adalah perusahaan pelayaran, sebab dengan terbukanya kedua jalur ini akan dapat memperpendek jarak tempuh pelayaran sebanyak ribuan mil.

Terbukanya jalur ini memperpendek jarak pelayaran antara Jerman dan Jepang sebanyak 4.000 mil dan sudah ada perusahaan pelayaran yang bersiap-siap untuk membuka jalur pelayaran melalui rute ini tahun depan. Kutub Utara Mencair, Pulau Es Meleleh.

Matahari Baru, Matahari Kembar Jadi 2

Foto Matahari Baru, Matahari Kembar

Matahari baru hal ini sedang ramai diperbincangkan, dan ada juga yang bilang Matahari Kembar, baik itu diperbincangkan di forum-forum maupun media jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Berawal dari teleskop Herschel milik Badan Luar Angkasa Eropa (ESA) merakam gambar sebuah embrio bintang yang sedang tumbuh berkembang didalam gelembung gas di tata surya. Kini Matahari Baru, Matahari Kembar Jadi 2 menjadi topik hangat para peneliti dunia.

Dari hasil pengamatan teleskop harschel tersebut maka dari Fenomena itu lahirlah sebutan Matahari Baru, karena bintang itu tumbuh di tata surya kita dan diyakini setelah terbentuk nantinya bisa memiliki ukuran yang lebih besar dari matahari yang sudah ada dalam tata surya bima sakti. Kalau ini menjadi kenyataan tidak terbayang dech, apa dunia ini jadi kiamat?

Kalau kita lihat sang calon bintang raksasa ini dalam citra teleskop tersebut tampak seperti sebuah gumpalan putih di tepi bawah gelembung. Embrio itu diperkirakan bisa tumbuh menjadi salah satu bintang terbesar dan yang paling cerah di galaksi dalam ratusan ribu tahun mendatang dan para peneliti juga di sinyalir calon bintang besar seperti matahari ini memiliki massa sekitar delapan hingga sepuluh kali lebih besar dibanding massa Matahari, dan dikelilingi begitu banyak material.

Info menyatakan jika saja ada banyak gas dan debu berjatuhan di embrio bintang baru tersebut maka objek baru luar angkasa ini mempunyai potensi untuk menjadi salah satu objek besar atau raksasa dalam Galaksi Bima Sakti, katanya juga jika saja ini terjadi maka kehadiran dari bintang baru pesaing darimatahari tersebut dapat mempengaruhi keadaan lingkungan sekitar.

Ilmuwan Herschel, Dr. Annie Zavagno, dari Laboratoire d’Astrophysique de Marseille menyatakan, “Ini merupakan bintang besar yang mengontrol evolusi kimia dan kedinamisan galaksi,” ia juga menambahkan lagi “Ini merupakan bintang besar yang menciptakan elemen berat seperti besi dan elemen-elemen tersebut akan berada di ruang antar bintang. Dan karena bintang-bintang besar mengakhiri hidup mereka dengan ledakan supernova, mereka juga menyuntikkan energi besar ke galaksi.”

Tidak jauh berbeda dengan isu Matahari Baru, isu mengenai Matahari Kembar juga kini sedang mengemuka. Hal tersebut berkaitan dengan sebuah tayangan acara infotaiment di televisi yang mengupas tentang Matahari Kembar (Baby Sun). Adapun isi dari acara infotaiment di televisi yang mengupas tentang Matahari Kembar tersebut isu pembahasannya tidak jauh berbeda dengan artikel Matahari Baru yang bisa ditemukan di internet.

Kesimpulan tentang Matahari Baru dan Matahari Kembar yang kedua-duanya sedang mengemuka dan menjadi perbincangan hangat merupakan fenomena yang sama, meski dengan judul pemberitaan yang mungkin sedikit agak berbeda dan dengan pembahasan media yang lain, dimana salah satunya di bahas di media internet, dan satunya lagi dibahas di media televisi.

Inilah salah satu bentuk keajaiban alam, apa saja bisa terjadi di luar dugaan kita, mumpung masih dalam bulan penuh ampunan (Ramadhan) segeralah bertobat (terutama saya), ini adalah bulan yang cocok untuk bertobat bukan? jangan-jangan dengan adanya fenomena Matahari Kembar atau Matahari Baru ini suatu bertanda kiamat sudah sangat dekat.

Hujan Merah, Tanya Kenapa?

hujan merah di kerala India

Hujan Merah atau Hujan Darah? Kemaren heboh-heboh ada Hujan Darah kini adalagi Hujan Merah. Apa sih sebenarnya Hujan yang bewarna merah ini? Pada saat itu, 25 Juli 2001, hujan lebat dengan air berwarna merah menghujani negara bagian Kerala di India. Hujan itu berlangsung hingga September 2001. Lebih dari 500.000 meter kubik air hujan berwarna merah tercurah ke bumi. Pada mulanya ilmuwan mengira air hujan yang berwarna merah itu disebabkan oleh pasir gurun, namun para Ilmuwan menemukan sesuatu yang mengejutkan, pada awal tahun 2006, fenomena hujan berwarna ini menjadi perhatian dunia setelah media memberitakan dugaan bahwa partikel-partikel berwarna tersebut berasal dari sel-sel dari luar angkasa. Temuan itu berawal dari peristiwa hujan merah di Kerala tahun 2001.

Contoh air hujan dibawa untuk diteliti oleh Pemerintah India dan ilmuwan mancanegara. Di antara ilmuwan independen yang meneliti fenomena itu adalah Godfrey Louis dan Santosh Kumara dari Universitas Mahatma Gandhi. Mereka mengumpulkan lebih dari 120 laporan dari penduduk setempat dan mengumpulkan sampel air hujan merah dari wilayah sepanjang 100 kilometer.

Mereka sempat mengira bahwa partikel merah di dalam air itu adalah partikel pasir yang terbawa dari gurun Arab. Hal ini pernah terjadi pada Juli 1968 di mana pasir dari Gurun Sahara terbawa angin hingga menyebabkan hujan merah di Inggris.

Namun, mereka menemukan bahwa unsur merah di dalam air tersebut bukanlah butiran pasir, melainkan sel-sel yang hidup. Komposisi sel tersebut terdiri atas 50 persen karbon, 45 persen oksigen dan 5 persen unsur lain seperti besi dan sodium, konsisten dengan komponen sel biologi lainnya, dan sel itu juga membelah diri.

Sel itu memiliki diameter antara 3-10 mikrometer dengan dinding sel yang tebal dan memiliki variasi nanostruktur di dalam membrannya. Namun, tidak ada nukleus (inti sel) yang dapat diidentifikasi.

Hujan yang pertama jatuh di distrik Kottayam dan Idukki di wilayah selatan India. Bukan hanya hujan berwarna merah, 10 hari pertama dilaporkan turunnya hujan berwarna kuning, hijau dan bahkan hitam. Setelah 10 hari, intensitas curah hujan mereda hingga September. Hujan tersebut turun hanya pada wilayah yang terbatas dan biasanya hanya berlangsung sekitar 20 menit per hujan. Para penduduk lokal menemukan baju-baju yang dijemur berubah warna menjadi merah seperti darah. Penduduk lokal juga melaporkan adanya bunyi ledakan dan cahaya terang yang mendahului turunnya hujan yang dipercaya sebagai ledakan meteor.

Contoh air hujan tersebut segera dibawa untuk diteliti oleh pemerintah India dan ilmuwan. Salah satu ilmuwan independen yang menelitinya adalah Godfrey Louis dan Santosh Kumara dari Universitas Mahatma Gandhi. Mereka mengumpulkan lebih dari 120 laporan dari penduduk setempat dan mengumpulkan sampel air hujan merah dari wilayah sepanjang 100 km. Pertama kali mereka mengira bahwa partikel merah di dalam air adalah partikel pasir yang terbawa dari gurun Arab. Hal ini pernah terjadi pada Juli 1968 dimana pasir dari gurun sahara terbawa angin hingga menyebabkan hujan merah di Inggris. Namun mereka menemukan bahwa unsur merah di dalam air tersebut bukanlah butiran pasir, melainkan sel-sel yang hidup.

Komposisi sel tersebut terdiri dari 50% Karbon, 45% Oksigen dan 5% unsur lain seperti besi dan sodium, konsisten dengan komponen sel biologi lainnya, dan sel itu juga membelah diri. Sel itu memiliki diameter antara 3-10 mikrometer dengan dinding sel yang tebal dan memiliki variasi nanostruktur didalam membrannya. Namun tidak ada nukleus yang dapat diidentifikasi. Setiap meter kubik sampel yang diambil, terdapat 100 gram unsur merah. Jadi apabila dijumlah, maka dari Juli hingga September terdapat 50 ton partikel merah yang tercurah ke Bumi.

Hujan Merah, Tanya Kenapa

Di Universitas Sheffield, Inggris, seorang ahli mikrobiologis bernama Milton Wainwright mengkonfirmasi bahwa bahwa unsur merah tersebut adalah sel hidup. Hal ini dinyatakan karena Wainwright berhasil menemukan adanya DNA dari unsur sel tersebut walaupun ia belum berhasil mengekstraknya.

Karena partikel merah tersebut adalah sel hidup, maka para ilmuwan mengajukan teori bahwa partikel merah itu adalah darah. Menurut mereka, kemungkinan batu meteor yang meledak di udara telah membantai sekelompok kelelawar di udara. Namun teori ini ditolak karena tidak adanya bukti-bukti yang mendukung seperti sayap kelelawar yang jatuh ke bumi.

Dengan menghubungkan antara suara ledakan dan cahaya yang mendahului hujan tersebut, Louis mengemukakan teori bahwa sel-sel merah tersebut adalah makhluk ekstra terestrial. Louis menyimpulkan bahwa materi merah tersebut datang dari sebuah komet yang memasuki atmosfer bumi dan meledak di atas langit India.

Sebuah studi yang dilakukan oleh mahasiswa doktoral dari Universitas Queen, Irlandia yang bernama Patrick McCafferty menemukan catatan sejarah yang menghubungkan hujan berwarna dengan ledakan meteor. McCafferty menganalisa 80 laporan mengenai hujan berwarna, 20 laporan air berubah menjadi darah dan 68 contoh fenomena mirip seperti hujan hitam, hujan susu atau madu yang turun dari langit. 36 persen dari contoh tersebut ternyata terhubung dengan aktivitas meteor atau komet. Peristiwa-peristiwa tersebut terjadi mulai dari Romawi kuno, Irlandia dan Inggris abad pertengahan dan bahkan Kalifornia abad ke-19. McCafferty mengatakan, "kelihatannya ada hubungan yang kuat antara laporan hujan berwarna dengan aktivitas meteor, Hujan merah Kerala cocok dengan pola-pola tersebut dan tidak dapat diabaikan begitu saja."

Jadi, apakah hujan merah di Kerala berasal dari luar bumi ? Sebagian ilmuwan yang skeptis serta merta menolak teori ini. Namun sebagian ilmuwan lain yang belum menemukan jawabannya segera melirik kembali ke sebuah teori usang yang diajukan oleh ahli fisika Sir Fred Hoyle dan Dr Chandra Wickramasinghe, teori yang disebut Panspermia, yaitu sebuah teori yang menyatakan bahwa kehidupan di bumi ini berasal dari luar angkasa.

Menurut kedua ilmuwan tersebut pada mulanya di luar angkasa terdapat awan gas antar bintang yang mengandung bakteri. Ketika awan itu mengerut karena gravitasi untuk membentuk sistem bintang, bakteri yang ada di dalamnya tetap bertahan hidup di dalam komet. Ketika komet itu terkena sinar matahari, panas matahari mencairkan permukaan es pada komet, bakteri-bakteri tersebut lolos dan tersapu ke planet-planet terdekat. Benarkah hal ini? Bagai mana pendapat anda tentang Hujan Merah atau Hujan Darah ini? Silakan berbagi di kolom komentar.

Terrarium: Garden Art In Glass

What is a Terrarium (Terrarium)

Terrarium or vivarium is medium or container made of glass or transparent plastic containing plants, which cater for diverse needs, such as for research, methods of planting and decorating. Can be said that the terrarium is the most natural artificial biosphere because of the biological function occurs in the terrarium was similar to what occurs in nature. So that the terrarium can also be used as a mini biology laboratory.

Terrarium will display a miniature garden in a glass media. Terrarium can simulate the actual conditions in the wild in the medium of glass. For example terarim can simulate a desert ecosystem, desert ecosystem, ecosystems and other tropical rain forest.

Terrarium was first introduced in England. Begins with a mini greenhouse in the United Kingdom and the nobility and terrarium become famous throughout the world including in Indonesia.


Terrarium: Garden Art In Glass

Terrarium currently available, can be divided into three categories, namely:

* Open Air Terrarium, the terrarium with the top open or closed. To create a miniature plants, such as the media is the most easily used and maintained. You can even make the decoration of this type of plants in a terrarium in a very short time.
* Terrarium Closed, namely terrarium with a sealed condition in all sections. The goal was to create a unique biosphere in the terrarium. Terrarium is the most difficult to be made and maintained. More challenges in making this type of terrarium. Some factors that must be special attention to a closed terrarium is a matter of quantity of water and proper lighting. Terrarium this type typically have a small part of which to put plants and other materials inside the terrarium. Of course this can be a challenge.
* Terrarium Animals, as the name implies, this type of terrarium used for small animals to put on display. For example lizard, iguana, frogs, small turtles or snakes. The aim is to display replica of the real world of fauna in the wild with a move into an attractive glass media.

Type of Terrarium Plants

Given the medium of glass terrarium is limited in size and has a unique biosphere, the selection of plants placed in the terrarium must be equally appropriate. Some plants commonly used in the terrarium, among others sansiviera, cactus, succulent and Bromelia.

About Briefly Kopi Luwak: Mongoose Coffee

About Briefly Kopi Luwak: Mongoose Coffee

The Mongoose Coffee (Kopi Luwak). Not a lot of coffee lovers who know where this coffee comes from and how the process is supposedly the most expensive coffee is up in your grasp.

Based on information gathered Blogger Indonesia from various sources, coffee mongoose is the kind of coffee is processed by natural fermentation in the digestive tract of animals whose names Mongoose. Mongoose is an animal that is similar to ferrets, but Mongoose usually live in trees.

Mongoose usually aged 80-10 years in search of food by mouth muzzle white or gray at night. After eating the beans, coffee beans then automatically processed in the stomach mongoose approximately 12 hours. Mongoose edible beans are mixed with enzymes that will exist in the gut mongoose. Because coffee beans were very hard then the coffee beans that have been in the eating mongoose will be issued again.

Although there was dirty and nasty, that's what a unique coffee aroma and marsh mongoose and appreciated very expensive. Even in the United States there is a cafe or coffee shop that sells the mongoose or civet coffee is quite expensive price. Price of a cup of coffee in America mongoose ranges 100-200 U.S. dollars or approximately Rp1-2 million. Coffee prices soared mongoose is increasingly in the international market because of outstanding only approximately 500 pounds only.

In Indonesia, Mongoose Coffee (Kopi Luwak) prices varied. For the price of raw sewage appreciated Raw or Rp350 thousand per kilogram, or the Green Bean coffee beans that have been processed up to stage the buyer is ready and dispensing their own lives in accordance with the tastes valued at 700 thousand / kg and mongoose coffee powder or coffee that was ready to be enjoyed appreciated Rp900 thousand per pounds. Wow is not expensive? lol

Mongoose coffee powder is also not carelessly thrown on the market. This coffee grounds to pass the taste test to prove the quality in accordance with his reputation. The test, called test cup can only be done from professionals who already have certification from international coffee research agency.

Some theories about the Chupacabra

Some theories about the Chupacabra

Some theories about the Chupacabra
1. Chupacabra is believed to result from genetic mutations caused by the leaking of chemical constituents of America's secret laboratory in El Yunque a mountain in eastern Puerto Rico. Labs are known to experience some damage during a storm in the 1990s, just as the appearance of Chupacabra began to be reported. The U.S. military is known to have tested several chemicals in agricultural lands of Puerto Rico, all done without notice to local residents.

2. Another theory states that the Chupacabra is a giant vampire bat fossils-fossils have been found in South America.

3. Another theory that does not mention that the Chupacabra is a creature that escapes an alien's pet. Some people claim that when they saw the Chupacabra, they also saw a UFO flying.

4. And another theory is not a creature Chupacabra is not real, but rather a product of superstition and imagination. The appearance that there is simply one of identification.

How do you think?

The Legend of El Chupacabra, Blood Sucking Dog

The Legend of El Chupacabra, Blood Sucking Dog

The Legend of El Chupacabra, Blood Sucking Dog - The term "Chupacabra" is derived from Spanish, "chupar" means sucking and "Cabra" means a goat, because most victims are cattle goats. In English, it means goat sucker.

The first time the term El Chupacabra Chupacabra or (Spanish) is used daily at two in Puerto Rico, 1992. Both reported cases of mass death of livestock, ranging from birds, horses, and the most was the goat.

After that many similar cases have been reported in the Dominican Republic, Argentina, Bolivia, Chile, Colombia, Peru, Brazil, and the U.S.. Since it remains mysterious Chupacabra discussed many communities, but no one any conclusions.

Not become clear, a mysterious figure that was the target of urban fashion circles. T-shirts and baseball hats sold well illustrated fiction Chupacabra among Hispanic and American communities. Known figures like coyotes, foxes bushy-haired, but there is also a call like kangaroos because, he said, can jump high. Chupacabra figure illustrates a number of artists like gargoyles, winged creature with the grinning face with sharp teeth ready to pounce.

In fact, there are at least three "figures" Chupacabra description. First and most common: crusty figure glaucous with longer hind legs than front legs. Large fanged snout like a dog. Can stand and jump like a kangaroo and smelled like sulfur. The second, similar to the first picture, but the hair of his head a little. Third, his dog like a wild, hairy little head, about the hair, without the large canine teeth or claws.

In July 2004, a rancher in San Antonio, Texas reported a creature resembling a dog that meyerang animals. Elmendorf creature called the Thing. However, DNA analysis by the University of California concluded that the animal was a coyote (wild dogs) with severe Ringworm disease.

In October 2004, two strange creature found dead in the area. The Biologist concludes that the carcass of Texas is also derived from coyotes with mange disease.

In Coleman, Texas, a farmer named Reggie Lagow saw an animal attacking his livestock, and he said that the animal resembles a mix between a hairless dog, rat and kangaroo.


Chupacabra

Chupacabra

Chupacabra

Chupacabra

Photographs of carcasses suspected of being El Chupacabra, the blood-sucking dog


September 2009 on the report findings CNN reduce coyote resembles an animal carcass, a property owner making the school a mounted animal Blanco, Texas. The owner named Jerry Ayer admitted getting animals weighing 60 kilograms were from his former pupil, Lynn Butler. Animals that died after eating rat poison in the warehouse.

Mouthed animal like a dog, without hair encrusted with severe ringworm on his body. According to Lynn, as quoted Telegraph.co.uk, some experts suspect it is researching Chupacabra.

Jerry kept asking the phone rang the animal. Most guessed it Chupacabra. "I do not know what it is ... I do not know if I have a strange animal," said Jerry is overwhelmed with interview requests.

Soon the local media, national, even international, citing what he called "coyote genetic defect" that. Jerry himself did not believe in the Chupacabra. Texas A & M University has taken a sample of tissue from the animal's body to identify. Similarly, a number of other universities.

Earlier, CNN broadcast a video duration of one minute 36 seconds was recorded from a car video devices Deputy Sheriff Dewitt County, Texas, driven by Brandon Riedel, August 8, 2008.

On the tape appeared to resemble the figure of a black dog, bermoncong, with ears standing, running on a gravel road. Two slightly longer hind legs than front legs.

A number of parties suspect that the same animal species, the coyote, including Brandon's boss, Sheriff Jode Zavesky.

It is not the first encounter in Cureo, Texas. In 2007 a rancher found a dead animal which he thought Chupacabra. DNA test results showed, similar to coyote DNA, but not identical.


Chupacabra identification

Chupacabra identification

Chupacabra identification

Identification of El Chupacabra


According to the reliefs found in Europe, some researchers connect the Chupacabra by gargoyles, creatures that are part of European history and is associated with evil spirits. Currently Chupacabra legend of a place in the latin community

Some tribes in the forests of Latin America also believe the story is "mosquito man", which precedes the mythical creature Chupacabra story, man mosquito has a long nose and also suck blood. Some say that human beings mosquitoes and the Chupacabra is the same.

In 2005, Isaac Espinoza spent about $ 6 million from his pocket to investigate the Chupacabra. He spent eight months in the forests of Latin America together with his team. Several times they had encounters with strange creatures like Chupacabra. They filmed the creature several times and took samples of hair and skin earned to the University of Texas for analysis. The result is that the creature is not of a kind known today.

Mount Roraima, Mount Flat World's Largest

Mount Roraima rose to fame in 1912 when Sir Arthur Conan Doyle's fiction-writing a novel entitled The Lost World. he enter into a climb to the mountain of Roraima, to conduct exploratory research in search of dinosaurs and prehistoric plant species are believed to live in an isolated and unchanged for millions of years on the mountaintop.

Conan-Doyle was inspired by British botanist Everard Im Thurn is on December 18, 1884 by Harry Perkins, they are the first person to reach the summit of Mount Roraima. Im Thurn and Perkins is not the first European to see Mount Roraima, the first Europeans who saw it was a German explorer Robert Schomburgk who was a scientist who cruise the area Britains Royal Society in 1838.

Delivered his lecture in the expedition when it was attended by Conan-Doyle. which later inspired him to explore the mountain Roraima

Im Thurn and Perkins had climbed Mount Roraima from the southeast of what is now called Im Thurn route, the only easiest way to reach the top. Im Thurn in his expedition had to fight also traveled hundreds of miles through rivers and forests are wild and dangerous beasts.

After Im Thurn and Perkins, a lot of British scientific expedition who came to collect and conduct research on the flora and fauna that exist in a strange mountain Roraima and produced many new species there. and this mountain has been set in the list of world heritage sites.




The tabletop mountains of the park are considered some of the oldest geological formations on Earth, dating back to some two billion years ago in the Precambrian Era.





The dramatic sandstone mesas are called tepuis. There are over a hundred of the high, remote plateaus, which thrust like rocky islands above the dense jungle foliage. Little is known about the unique plants and animals that inhabit the walls and tops of these formations—and they may yet shed much light on the evolution of South America.








Mount Roraima is Guyana's tallest tepui. The massive mountain—about 9 miles (14 kilometers) long and 3 miles (5 kilometers) wide—lies where the borders of Guyana, Brazil, and Venezuela meet. Its wide, flat summit tops out at 9,094 feet (2,772 meters).



Mount Roraima, Mount Flat World's Largest